Oleh: Dr. Aniqoh Lc., M.Th.I.*
K.H. Imam Puro, yang juga dikenal dengan nama Kiai Hasan Benawi atau Imam Maghfuro, adalah seorang ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, khususnya pada masa Perang Diponegoro sekitar tahun 1825. Beliau dimakamkan di lereng Bukit Geger Menjangan, Dusun Candi, Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo, yang hingga kini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah.
Dari segi silsilah, K.H. Imam Puro merupakan keturunan Kerajaan Mataram. Garis nasabnya dapat ditelusuri mulai dari Pangeran Mas Julang, kemudian Pangeran Jaka Umbaran, lalu Jaya Taruna, hingga Tjakrama, yang merupakan ayah dari K.H. Imam Puro. Dengan garis keturunan ini, beliau sesungguhnya berasal dari kalangan bangsawan istana. Namun demikian, sejak masa remaja beliau memilih meninggalkan kehidupan keraton demi menuntut ilmu agama dan mengabdikan diri sebagai seorang santri, sebuah pilihan hidup yang menunjukkan kesungguhan dan kerendahan hati yang luar biasa bagi seseorang berdarah bangsawan.
Masa kecil K.H. Imam Puro dihabiskan di lingkungan keraton, namun ketika memasuki usia remaja, beliau meninggalkan segala kemewahan tersebut untuk menempuh pendidikan agama di berbagai pesantren, baik di Jawa maupun di Mekah. Pilihan ini mencerminkan visi hidupnya yang lebih mengutamakan ilmu dan dakwah dibandingkan status sosial maupun kekayaan duniawi.
Pendidikan dan Karier
Riwayat pendidikan K.H. Imam Puro ditempuh di berbagai pesantren. Di antaranya beliau pernah nyantri selama tiga tahun bersama Simbah Kanawi, tiga tahun di Pondok Demung, tiga tahun di Pondok Plangitan, serta tujuh tahun di Pondok Bebek. Selain itu, beliau juga menimba ilmu di Mekah, berguru kepada Syekh Ibrahim Sholahudin dan juga kepada Imam Syafi’i. Ilmu yang dipelajarinya sangat lengkap, meliputi nahwu, sharaf, tasawuf, hingga ilmu thariqah dan kewalian.
Kisah masuknya beliau menjadi murid Imam Syafi’i pun sarat makna. Diceritakan bahwa beliau diminta melaksanakan salat hajat sebanyak empat puluh kali serta mengirimkan hadiah Al-Fatihah kepada seluruh gurunya. Ternyata ada satu guru yang belum dikirimi hadiah tersebut, yaitu Simbah Krama Wijaya dari Tepus, Kutoarjo, yang selama ini menjadi guru pertamanya. Setelah kekurangan itu dilengkapi, barulah beliau diterima sebagai murid oleh Imam Syafi’i. Kisah ini menggambarkan betapa besar penghormatan beliau terhadap para gurunya.
Setelah menempuh pendidikan yang panjang, K.H. Imam Puro kembali ke Purworejo dan berguru kepada Kiai Hanafiyah di Desa Baledono. Berkat ketekunan dan akhlaknya, beliau kemudian dinikahkan dengan putri gurunya tersebut, dan diperintahkan untuk bermukim di Dusun Ngemplak, Desa Sidomulyo, guna menyebarkan agama Islam di wilayah yang saat itu pemahaman keagamaan masyarakatnya masih terbatas.
Di Dusun Ngemplak inilah karier dakwah beliau berkembang pesat. Pondok yang diasuhnya tumbuh hingga memiliki ratusan santri. Beliau juga mewariskan sebuah kitab bernama Al-Qur’an (dengan penulisan pegon, yakni aksara Arab berbahasa Jawa), mengajarkan amalan Thariqah Syathoriyah Sadzaliyah yang hingga kini masih diamalkan secara rutin setiap empat puluh hari sekali pada hari Rabu Pon, serta thariqah Naqsyabandiyah dan Syadziliyah. Beliau juga mewariskan bangunan musala yang kini telah direnovasi menjadi masjid, serta karya berupa syair salawat.
Selain berperan sebagai tokoh agama, K.H. Imam Puro juga dikenal sebagai panglima perang pada masa Perang Diponegoro, di mana beliau mengerahkan para santrinya untuk turut berjihad melawan penjajah Belanda, menunjukkan bahwa kiprahnya tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan, tetapi juga meluas ke ranah sosial dan perjuangan kebangsaan.
Peristiwa dan Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan rumah tangganya, K.H. Imam Puro menikah pertama kali pada usia empat puluh tahun dengan seorang istri yang berusia tujuh belas tahun. Sayangnya, sang istri wafat di Mekah saat menunaikan ibadah haji bersama beliau, sehingga beliau harus kembali ke tanah air seorang diri. Setelah itu, beliau menikah kembali dengan adik ipar dari istri pertamanya yang bernama Dewi Ayu. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai empat orang putra, yaitu K.H. Hasbulloh, K.H. Nur, K.H. Anwar, dan Nyai Tohir, yang keturunannya kemudian tersebar dan banyak yang menjadi tokoh agama terkemuka di wilayah Purworejo, seperti K.H. Achmad Hamid AK yang pernah menjabat Ketua MUI Purworejo.
Salah satu ujian dalam hidup beliau adalah ketika sempat ditahan selama tujuh hari karena dituduh memanfaatkan santri untuk meminta hewan ternak. Namun setelah diselidiki, tuduhan itu tidak benar—hewan-hewan tersebut sesungguhnya dibawa secara sukarela oleh para santri untuk keperluan ibadah kurban dan akikah, tanpa ada unsur paksaan. Beliau akhirnya dibebaskan setelah terbukti tidak bersalah, sebuah peristiwa yang menunjukkan ketabahan dan kesabarannya dalam menghadapi fitnah.
Karomah dan Keramat: Kisah-Kisah Kewalian
Menurut penuturan turun-temurun dan Kitab Manaqib yang ditulis Kyai Ma’mun Ma’sum, K.H. Imam Puro dikenal memiliki sejumlah karomah (kemuliaan/keajaiban yang dianugerahkan Allah kepada para wali) yang hingga kini masih diceritakan di kalangan masyarakat dan keturunannya.
Keramat saat berzikir malam. Seorang santri kesayangan beliau bernama Karim pernah diam-diam mengamati gurunya berzikir di malam hari. Ia melihat zikir sang guru semakin lama semakin cepat, hingga Karim penasaran dan mengintip lebih jauh. Ia mendapati tempat tidur atau ruang zikir K.H. Imam Puro memancarkan cahaya terang yang semakin lama semakin tinggi, sampai akhirnya tidak lagi terlihat batasnya.
Gethuk yang terbang ke Mekah. Seorang santri asal Kebumen yang dikenal lamban berpikir dan berprofesi sebagai penjual gethuk (makanan khas Kebumen) suatu ketika diminta gurunya, yang sedang berada di Mekah untuk berhaji, untuk membuatkan gethuk. Tanpa ragu sedikit pun—meski jarak Kebumen–Mekah mustahil ditempuh secara wajar—santri itu membuat gethuk terbaik, meletakkannya di hadapannya, lalu berzikir “ya kayuku ya kayumu” (dalam ejaan Jawa, dimaksudkan “ya hayyu ya qoyyumu”). Gethuk itu pun tiba-tiba terbang dan sampai di hadapan K.H. Imam Puro di Mekah. Kisah ini dimaknai sebagai buah dari ketaatan dan keyakinan penuh sang santri kepada gurunya.
Menolong jemaah haji yang tertinggal kapal. Seorang jemaah haji asal Kebumen pernah tertinggal kapal untuk pulang ke Indonesia dan kebingungan di Mekah. Seorang takmir masjid menyarankan agar ia memeluk orang berjubah hijau—bukan yang berjubah kuning—karena itulah K.H. Imam Puro. Jemaah tersebut lalu memeluk sosok berjubah hijau itu, diminta menutup mata, dan seketika ia sudah berada di depan rumahnya sendiri di Indonesia. Karena lupa berterima kasih, jemaah itu kemudian mencarinya hingga ke Purworejo, tepatnya di sebuah masjid di belakang Pasar Baledono, dan setelah seminggu mencari, ia akhirnya bertemu kembali dengan sosok yang sama—yang ternyata memang K.H. Imam Puro.
Hadir di dua tempat sekaligus. Setiap kali waktu salat Jumat tiba, K.H. Imam Puro selalu masuk ke kamarnya. Konon, pada saat bersamaan ada orang yang mengenalnya justru melihat beliau tengah menunaikan salat Jumat di Mekah—padahal jasadnya tetap berada di kamar rumahnya di Purworejo.
Kelembutan terhadap makhluk hidup. Salah satu keramat yang lebih sederhana namun sarat makna adalah sikap beliau terhadap makhluk ciptaan Allah. Jika ada seekor burung menghalangi jalannya, beliau tidak pernah mengusirnya, melainkan menunggu dengan sabar hingga burung itu terbang sendiri—sebuah wujud ketakwaan dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.
Keunikan yang Membedakan
Ada beberapa hal yang membuat sosok K.H. Imam Puro unik dibanding ulama sezamannya:
- Bangsawan yang memilih jalan sunyi. Terlahir sebagai keturunan Mataram yang mestinya hidup dalam kemewahan istana, beliau justru memilih hidup sederhana sebagai santri kelana, berpindah dari satu pondok ke pondok lain selama bertahun-tahun.
- Dakwah tanpa memandang kasta. Berbeda dengan pola dakwah pada masanya yang sering terikat hierarki sosial, K.H. Imam Puro dikenal menyebarkan Islam tanpa membedakan status maupun derajat seseorang—sikap yang diwariskan turun-temurun kepada dzuriyahnya hingga sekarang.
- Perpaduan ulama dan pejuang. Beliau bukan hanya tokoh spiritual, tetapi juga panglima perang pada masa Diponegoro—memadukan peran keagamaan dan kebangsaan dalam satu sosok.
- Karomah yang bersifat “menolong”, bukan sekadar spektakuler. Menariknya, hampir semua kisah karomahnya berpusat pada tema menolong orang lain (santri, jemaah haji) yang sedang kesulitan, bukan sekadar unjuk kesaktian.
- Warisan yang hidup hingga kini. Amalan Thariqah Syathoriyah Sadzaliyah yang beliau ajarkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan masih diamalkan secara rutin oleh masyarakat lintas kalangan setiap Rabu Pon, empat puluh hari sekali—menjadikan warisannya benar-benar hidup, bukan sekadar dikenang.
Keistimewaan-keistimewaan ini, baik yang bersifat historis maupun legendaris, oleh masyarakat Purworejo dimaknai sebagai teladan tentang keteguhan iman, kerendahan hati meski berdarah bangsawan, kepedulian sosial, cinta tanah air, serta pentingnya menuntut ilmu sebagai tujuan hidup yang utama.
Sumber Referensi
Muna, Choirul; Sidna, Nurilkaunaini; Nurjanah; Aniqoh; Yulianto. Biografi dan Peran Simbah K.H Imam Puro dalam Moderasi Beragama di Purworejo. Semarang: CV. Pilar Nusantara bekerja sama dengan STAINU Purworejo, Cetakan I, Desember 2021. ISBN 978-623-6455-43-2.
Wawancara lapangan dengan narasumber seperti Bapak Anwar, K.H. Chamid AK, Kiai Adib Lutfi Hakim, Kiai Masykur, santri bernama Najib, dan K.H. Muhamad Bastomi (November–Desember 2021, di berbagai desa di Kecamatan Purworejo dan Loano). Kitab Manaqib Simbah Kyai Imam Puro karya Kyai Ma’mun Ma’sum, tersimpan di Dusun Ngemplak, Desa Sidomulyo, Kecamatan Purworejo — sumber utama seluruh kisah karomah di atas.
*Dr. Aniqoh Lc., M.Th.I. Pengurus LPTNU Kabupaten Purworejo

